Senin, 15 April 2013

Pengertian dan Sejarah Ulumul Hadist Pada Masa Klasik, Pertengahan Dan Modern



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
 PENDAHULUAN......................................................................................................
PEMBAHASAN........................................................................................................ 1
A.   Pengertian Hadist.................................................................. 1
B.   Unsur-unsur hadist................................................................ 2
C.   perkembangan ulumul hadist pada periode klasik ............ 4
D.   Perkembangan ulumul hadist pada periode pertengahan.. 6
E.   Perkembangan ulumul hadist pada peridoe modern.......... 7
Kesimpulan....................................................................................... 10
Daftar Pustaka................................................................................. 11



KATA PENGANTAR


       Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia rahmat hidayah-Nya, kegiatan penyusunan makalah dapat terlaksana dengan baik.
       Penyusunan makalah ini merupakan salah satu kegiatan proses belajar-mengajar dalam kampus STAIN Padangsidimpuan, dalam upaya meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam meningkatkan ilmu pengetahuan yang bernuansa Islami. Makalah yang berjudul PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ULUMUL HADIST PADA MASA KLASIK, PERTENGAHAN DAN MODERN ini menyajikan tentang jalan para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Makalah  ini berasal dari kumpulan berbagai buku dan  situs  yang kami cari, kemudian sedemikian rupa kami singkat menjadi sebuah makalah.
Pemakalah juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen pengajar yang telah memberikan kami bimbingan dan bantuan dalam penyelesaian makalah ini. Akhirnya, semoga Allah meridhoi kegiatan penyusunan makalah  ini dan memberikan manfaat bagi kita semua yang membacanya.



Pendahuluan

Kita ketahui bahwasanya hadist merupakan sumber sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an. Keberadaan hadist disamping telah mewarnai masyarakat dalam kehidupan juga telah menjadi bahasan kajian yang menarik. Hadist mengandung makna dan ajaran serta memperjelas kandungan al-Qur’an dan lain sebagainya. Para peneliti dan ahli hadist telah berhasil mendokumentasikan hadist baik kepada kalangan masyarakat, akademis, penelitian hadist tersebut telah membuka peluang untuk mewujudkannya suatu kajian disiplin Islam, yaitu bidang study Ulumul Hadist.
Maka dalam makalah ini, penulis menyajikan tentang “PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ULUMUL HADIST PADA MASA KLASIK, PERTENGAHAN DAN MODERN” , semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat bagi semuanya, terutama bagi penulis. Amin.



Pembahasan
A.   Pengertian Hadist
Secara bahasa kata “hadist” atau al-hadist berarti sesuatu yang baru, secara terminologi menurut ulama hadist yaitu:
“segala perkataan Nabi SAW., perbuatan dan hal ihwalnya.”
Selain hadist terdapat pula istilah sunnah, khabar dan atsar.
Hadist yang bermaknakan khabar ii diisyiqaqkan dari tahdits yang bermakna riwayat atau ikhbar=mengabarkan. Apabila dikatakan haddatsana bi haditsin, maka maknanya akhbarana bihi haditsun = dia mengabarkan sesuatu kabat kepada kami.[1]

v  Sunnah menurut ahli hadist yaitu:
Segala yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalanan hidupnya, baik sebelum menjadi rasul, maupun sesudahnya.”
v  Khabar menurut bahasa adalah segala warta berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain
v  Atsar menurut sumber ulama hadist yaitu segala yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW., sahabat, tabi’in dan tabi’tabi’in.

Dari pengertian hadist, sunnah, khabar, dan atsar, sebagaimana diuraikan di atas menurut sumhur ulama hadist, dapat dipergunakan untuk maksud yang sama yaitu hadist disebut juga dengan sunnah, kahabar, atau atsar.[2]
Hadist atau al-hadist menurut bahasa al-jadid yang artinya sesuatu yang baru lawan dari al-qadim (lama) artinya yang berarti menunjukkan pada waktu yang dekat atau waktu yang singkat. Hadist juga sering disebut dengan al-khabar, yang berarti berita, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadist.[3]






B.     Unsur-Unsur Pokok Hadis
1.      sanad
kata sanad menurut bahasa adalah  “ sandaran “ atau sesuatu yang kita jadikan sandaran. Dikatakan demikian karena hadis bersandar kepadanya. Menurut istilah , terdapat perbedaan rumusan pengertian. Al- Bdarum Bin Jama’ah dan at-tiby mengatakan bahwa sanad adalah



“berita tenteng jalan matan”
Yang lain menyebutkan :



“silsilah orang-orang yang (meriwayatkan hadis) yang menyampaikan kepada matan hadis”.

         Yang berkaitan dengan istilah sanad, terdapat kata-kata seperti, al-isnad, al-musnid, dan al-musnad, kata-kata ini secara terminologi mempunyai cakupanarti yang cukup luas sebagaimana yang dikembangkan para ulama.
         Kata al-isnad berarti menyadarkan mengasalkan  (mengembalikan ke asal), yang dimaksud disini ialah menyadarkan hadis kepada orang yang mengatakannya.(raf u al-hadis ila qa’ilih atau ‘aswu al-hadis ila qa’ilih). Menurut at-tiby, sebenarnya kata sebenarnya kata al-isnad dan as-sanad digunakan oleh para ahli hadis dengan pengertian yang sama.

         Kata al-mussnad mempunyai beberapa arti, bisa hadis yang disandarkan atau diisnadkan oleh seseorang ; Bis berarti kumpulan hadis yang diriwayatkan dengan menyebutkan sanad-sanadnya secara lengkap seperti; musnad al-firdaus; bisa berarti, nama suatu kitab yang menghimpun hadis-hadis dengan sistem penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat para perawi  hadis, seperti kitab musnad ahmad; bisa jugak berarti nama bagi hadis yang marfu’ dan muttasil (hadis yang disandarkan kepada rasulullah saw dan sanadnya bersambung).


2.      Matan

Kata “matan” atau “al-matan” menurut bahasa berarti mairtafa’a min al-ardi atau tanah yang meninggi sedang mnurut istilah adalah


“Satu kalimat tempat berakhirnya sanad”
Dengan redaksi lain-lail; ialah:


“lafas-lafas hadis yang didalamnya mengandung makna-makna tertentu “
         Ada juga reasi yang lebih simpel lagi, yang menyebutka  bahwa matan adalah ujung sanad (gayah as-sanad). Dari semua pengertian diatas, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan matan ialah materi atau lafas hadis itu sendiri.



3.      Rawih

Kata “rawih” atau ar-rawih berarti orang yang meriwayatkan atau memberitakan hadis (naqli al-hadis).
         Sebenarnya antara sanad dengan rawi itu merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad hais pada  tiap-tiap tabaqahnya, juga disebit rawih, jika yang dimaksud dengan rawih adalah orang yang meeriwayatkan dan memindahkan hadis. Akan tetapi yang membedakan antara awi dengan sanad, adalah terletak pada pembukuan atau pentadwinan hadis. Orang yang menerima hadis dan kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut dengan perawi, dengan demikian, maka perawi dapat disebut mudawwin ( orang yang membukukan dan menghimpun hadis)

         Untuk lebih jelas dapat membedakan antara sanad, rawi, dan matan sebagai mana yang diuraikan diatas dapat dilihat melalui hadis berikut ini yang sekira-kira artinya:

         Telah menceritakan kepadaku muhammad bin-ma’murbin rabi’I al-qaisi, katanya telah menceritakan kepadaku Abu Hisyam al-mahjumi dari Abu al-wahid yaitu ibn jiyat katanya : telah menceritakan kepadaku usman bin hakim , katanya telah menceritakan kepadaku muhmad bin al-munkadir, dari amran dari usman bin affan ra. Ia berkata barabng siapa yang berwudu’ dengan sempurna (sebaik-baiuknya wudu’) keluarlah dosa-dosanya dari seluruh badannya, bahkan dari bawah kukunya.

         Dari nama muhammad bin ma’mur bin rabi’I al-qaisi sampai sampai dengan usman bin affan ra. Adalah sanad dari  hadis tersebut . mulai kata man tawadda’a  sampai dengan kata tahta azfarih, adalah matannya. Sedang imam muslim yang dicatat dalam ujung hadis perawihnya, yang jugak diseb dengan mudawin.[4]

C.   Sejarah perkembangan pemikiran ulumul Hadist pada periode Klasik

Hadist sebagai suatu informasi, memiliki metodoliogi untuk menentukan keotentikan periwayatannya yang dikenal dengan Ulum al- Hadist, yang merupakan bentu manajemen infomasi. Hanya saja, pada masa Rasulullah SAW sampai sebelum pembukuan Ulumul Al-hadist istilah Ulum al-hadist, jelas belum ada. Akan tetapi prinsip-prinsip yang telah berlaku pada masa itu sebagai acuan untuk menyikapi suatu informasi yang telah ada.
v  Masa Rasulullah SAW sampai Masa Khulafaur Rasyidin
·         Rasul  SAW adalah guru sunnah terbaik. Sejumlah penulis ulumul al- hadist mencatat metode yang dipakai Rasul SAW dalam mengajarkan ilmu (sunnah). Husn at-tarbiyah wa ta’lim
·         Tadarruj
·         Tanwi’ wa taghyir
·         Tathbiq al-‘amali
·         Mura’ah al-mustawayat al-mukhtalifah
·         Taisir wa ‘adam at-tasydid[5]

Prinsip- prinsip Ulum Al-hadist pada masa rasul sampai masa Khulafa Arrasyidin adalah verifikasi, penyedikitan riwayat, kehati-hatian dalam menrima dan menyampaikan riwayat, dan pemberlakuan sumpah.
Verifikasi terhadap sumber dari rasul telah diajarkan beliau kepada para sahabat ketika mendapatkan informasi dari seseorang. Sebgaimana penah terjadi pada masa rasul bahwa serang laki-laki datang kepada suatu kaum tersebut. Akan tetapi setelah kaum itu melakukan verifikasi kepada rasul terbukti bahwa orang itu telah berdusta. Kasus ini adalah ketika Umar bin Khattab mendengar bahwa rasul telah menceraikan istri-istrinya.
Perlakuan tersebut, dalam kaidah Ulum al- hadist adalah sesuatu yang harus diluruskan untuk memprtegas suatu informasi. Penyelidikan qalil ar-riwayah mulai berlaku setelah rasul wafat atau pada masa sahabat sebagai usaha untuk menangkal banyaknya hadist palsu dan kebohongan yang mengatas namakan Rasulullah SAW. Selain itu, ada pemikiran dari sebagian sahabat bahwa rasul telah melarang penulisan hadist yang membuat tersendatnyaperiwayatan hadist.
v  Masa Khulafa Arrasyidin sampai pemisahan dari hadis
Setelah Masa Khulafa Arrasyidin, khususnya pada munculnya kekacauan politik sebelum dan sesudah mas Ali, banyak muncul riwayat yang di identifikasi sebagai riwayat maudhu. Usaha penangkalannya adalah dengan melakukan seleksi terhadap setiap informasi yang muncul sebagai usaha kegati-hatian dalam menerimanya, baik dengan cara-cara yang telah dilakukan oleh para sahabat sebelimnya, yaitu metode sumpah, atau dengan melakukan evaluasi terhadap para penyampai riwayat (rawi).
Oleh sebab itu, pada masa ini isnad menjadi sesuatu yang sangat penting, sampai ajhirnya uji sahih isnad menjadi suatu yang mesti dalam menyeleksi suatu kebenaran suatu informasi. Kedudukan isnad dalam Islam telah menjadi bagian dari ilmu-ilmu agama dan menjadi sumber kebanggaan masyarakat muslim.







D.    Sejarah perkembangan pemikiran ulumul Hadist pada periode Pertengahan

Masa Ibn Shalah, disebut Nur Ad-Din itr, adalah masa kesempurnaan pertama karena Ibnu Shalah dianggap sebagai tokoh yang menyusun ulumul hadist yang sistematis dan mencakup seluruh pembahasan ulumul hadist. Tokoh-tokoh setelah Ibn Shalah banyak yang mengikuti atau merujuk karyanya.oleh sebab itu karya yang muncul setelah Ibn Shalah berupa syar, ikhrisyar, nazham, nuqat atau naqdi, hasyiyah, atau talkhis.
Untuk melihat beberapa jauh pengaruh pemikiran ulumul hadist Ibn Shalah terdapat tokot-tokoh setelahnya. Antara lain:
1.      Imam Muhyi Ad-Din bin Syarf An-Nawawi
An-Nawawi memiliki karya ulumu hadist yang menginduk kepada kitab asal karya Ibn Shalah, yaitu Irsyad Thulab Al-Haqaiq ila ma’rifat sunan khair Al-Khaliq. Kemudian kitab beliau ikhtisar kembali yang diberi nama At-Taqrib wa At-Taysyir li Ma’rifat Sunan Al-Basyir An-Nadzir, dan ikhtisyarnya lebih masyhur kembali dari Al-Irsyad. Sebagai salah satu bukti bahwa At-Taqrib menjadi lebih masyhur dari pada Al-Irsyadadalah dengan adanya kitab yang menjadi Syarh At-Taqrib, yaitu syarh Taqrib An-Nawawi, karya Al-Iraqi dll.
Manhaj An-Nawawi dalam penyusunan Al-Irsyad, sebagaimana dijelaskan dalam muqaddimahnya bertujuan:
·         Memberikan penjelasan dengan ungkapan yang sangat mudah dimengerti oleh pembaca
·         Meringkas dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang dianggap tidak perlu
·         Mejaga tujuan dari kandungan kitab Ibn Shalah sebagaimana tujuan yang diinginkan penyusunnya
·         Menambah beberapa faedah yang dianggap perlu untuk emberikan penjelasan, yaitu dengan memberikan submasalah.
Semua yang dilakukan An-Nawawi merupakan keistimewaan karyanya.





E.     Sejarah perkembangan pemikiran ulumul Hadist pada periode Modern

Periode pemikiran modern dapat dinyatakan diawali oleh Ibn Taymiyah yang mengumandangkan “terbukanya pintu ijtihad”, sebagai awal untuk memperbaharui Islam. Akan tetapi, perkembangan selanjutnya ada pada masa Syah Waliyullah , Ibn Abdul Wahhab, Sayid Jamaluddin Al-Afghani, Dan Muhammad ‘Abduh.
Setelah mengalami stagnasi, yakni dari abad ke sepuluh samapi awal abad keempat belas hijiriyah, ulum al-hadist mengalami kebangkitan kembali dengan munculnya karya-karya yang lebih menonjolkan sistematika penyusunan yang sesuai dengan sistematika modern, hal tersebut dilatar belakangi oleh konflik yang terjadi antara Timur dan Barat Yang menyentuh tataran teologis.
Pada periode ini selain, selain munculnya kitab-kitab ulumul hadist  yang mencakup seluruh kajian cabang hadist, juga muncul kajian ulumul hadist secara khusus, yang lebih menitik beratkan pada pemikiran, baik yang berkaitan dengan sejarah, manhaj, kritik, atau pertahanan terhadap berbagai tuduhan yang dilontarkan untuk menilai sunnah.
Pemikiran ulumul hadist dalam peiode ini di mulai dengan munculnya tokoh-tokoh berikut:
1.      Jamlluddin Al-Qasimi
Karya Al-Qasimi ditujukan kepada orang-orang yang kepad mereka kitab-kitab lain dipersembahkan dan yang sangat diharapkan para ulama, yaitu orang-orang yang memiliki lima sifat, dan yang dominan adalah ikhlas, cerdas, dan objektif.
Karya AL-Qasimi mencoba memberikan sistematika pengajaran yang lebih baik dan komprehensif dengan tetap mengacu pada karya-karya awal ulumul-hadist sehingga dapat dikatakan bahwa yang muncul pada abad ini lebih terfokus pada perubahan sistematika penyajian serta pemecahan dari persoalan ulumul hadist yang sebelumnya masih berserakan. Ia sendiri menyebut bahwa kitab tersebut berupa ringkasan dari karya-karya awal yang berkaitan dengan objek buku ini, dan dari kitab ushul pilihan, dan dari merek yang bergelut kapada fiqh As- sunnah. Dengan latar belakang seperti ini, kitab ini mempunyai nilai lebih jika dilihat dari sumber yang dirujuknya sekligus mengandung kelemahan.




2.      Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib
Karya ‘Ajaj Al-Khatib tentang kajian ulumul hadist adalah Ushul Al-Hadist ‘Ulumuhu wa Mushthahuhu. Krya ini dipersembahkan oleh penulisnya sebagai peengkap dari karya sebelumnya As-Sunnah Qabla At-Tadwid. Jika dalam As-Sunnah ia membahas eksistensi As-Sunnah, dalam Ushul Al-Hadist, ia mencoba menjelaskan kaida-kaidah utama yang berkaitan dengan cara menyikapi eksistensi hadist sehingga dapat memisahkan antara yang diterima dan yang ditolaknya.
‘Ajaj Al-Khatib, mencoba merumuskan sistematika penyusunan seluruh kaidah dalam ulum al-hadist ke dalam empat bagian (bab).
1.      Bagian pertama, ia menjelaskan pengantar tentang hal-hal yang berkaitan dengan sunnah dalam lima fashal
2.      Bagian kedua ia menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pembukuan hadist yang di dalamya memuat tiga fashal
3.      Bagia ketiga, ia menjelaskan ulum al-hadist yang di dalamnya mencakup tujuh fashal
4.      Dan bagian yang keempat, ia menjelaskan musthalah al-hadist yag di dalamnya termuat empat fashal
Karya ini ia tutup dengan pembahasan tentang permasalahan hadist mawdhu, adab, dan majlis-majlis riwayat lal-hadist, dan diakhiri dengan penjelasan gelar-gelar para ahli hadit dan karya-karya dalam bidang ulum al-hadist, yang berjumlah 180 kitab.

3.      Nuruddin ‘Itr
Karya Nuruddin adalah karya yang memiliki manhaj tersendiri, menurut penyusunnya buku ini berusaha memaparka kaidah-kaidah ulumul hadist untuk membela hadist nabi dan memisahkan yang sahihdari yang tidak sahih dan yang maqbul dari yang tidak maqbul. Juga masih tujuan sekaligus manhaj umum dari buku ini adalah menjadikan masalah ulumul hadist saling melengkapi dari yang sebelumnya tercerai berai, serta ingin membawa pembaca kearah pemikiran yang menyeluruh dan teratur mencakup seluruh cabang ulumul hadist.
Sistematika yang ditawarkan Nuruddin merupakan sistematika yang khas dan baru, sebab ia mengelompokkan berdasarkan objek kajian yang di dalmnya diungkapkan kaida-kaidah yang menyertainya yang tersusun menjadi delapan bab.



4.      Mahmud Ath-Thahhan
Karya Mahmud dalam bidang ulumul hadist adala Taysir Mushthalah Al-Hadist. Buku ini disusun dengan sangat ringkas, sistematis, dan menggunakan bahasa yang sangat mudah dimengerti, sehingga sangat cocok untuk para pemula, dalam pembhasannya, Mahmud menggunakan sistem pointer, melipiti defenisi dan pemahamn singkat dari setiap materi bahasan, tanpa memuat perdebatan yang terjadi dalam materi pembahasan tersebut membuat susunan bab yang lebih rapi berdasarkan pembagia secara umum.
Sistematika penyusunan dimulai dengan muqaddimah yang berisi sejarah singkat tentang ulumul hadist, kitab-kitab yang termasyur Tentang ulumul hadist, dan defenisi ulumul hadist.[6]













Kesimpulan
Secara bahasa kata “hadist” atau al-hadist berarti sesuatu yang baru, secara terminologi menurut ulama hadist yaitu:
“segala perkataan Nabi SAW., perbuatan dan hal ihwalnya.”
v  Masa Rasulullah SAW sampai Masa Khulafaur Rasyidin
·         Rasul  SAW adalah guru sunnah terbaik. Sejumlah penulis ulumul al- hadist mencatat metode yang dipakai Rasul SAW dalam mengajarkan ilmu (sunnah). Husn at-tarbiyah wa ta’lim
·         Tadarruj
·         Tanwi’ wa taghyir
·         Tathbiq al-‘amali
·         Mura’ah al-mustawayat al-mukhtalifah
·         Taisir wa ‘adam at-tasydid

Setelah Masa Khulafa Arrasyidin, khususnya pada munculnya kekacauan politik sebelum dan sesudah mas Ali, banyak muncul riwayat yang di identifikasi sebagai riwayat maudhu. Usaha penangkalannya adalah dengan melakukan seleksi terhadap setiap informasi yang muncul sebagai usaha kegati-hatian dalam menerimanya, baik dengan cara-cara yang telah dilakukan oleh para sahabat sebelimnya, yaitu metode sumpah, atau dengan melakukan evaluasi terhadap para penyampai riwayat (rawi).
Setelah mengalami stagnasi, yakni dari abad ke sepuluh samapi awal abad keempat belas hijiriyah, ulum al-hadist mengalami kebangkitan kembali dengan munculnya karya-karya yang lebih menonjolkan sistematika penyusunan yang sesuai dengan sistematika modern, hal tersebut dilatar belakangi oleh konflik yang terjadi antara Timur dan Barat Yang menyentuh tataran teologis.






DAFTAR  PUSTAKA
al-Munawar,  Said Agil Husain, Ilmu Hadist, Gaya Media Pratama, Jakarta 1996
Wahid, Ramly Abdul, Studi Ilmu Hadist, Cita Pustaka Media, Bandung 2005
Suparta, Munzier,  Ilmu Hadist, Raja Grafindo, Jakarta 2010
Dede Rudliyana, Muhammad,  Perkembangan pemikiran Ulumul Hadist dari klasik sampai modern, Pustaka Setia, Bandung 2004 

Ash Shiddieqy,Teungku Muhammad Hasbi, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadist, Semarang 1999



[1] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadist, 1999 Semarang, hlm 1
[2] Prof. Dr. H. Said Agil Husain al-Munawar, M.A, Ilmu Hadist, Gaya Media Pratama, 1996 Jakarta, hlm 2
[3] Dr. H. Munzier Suparta M.A, Ilmu Hadist, Raja Grafindo, Jakarta 2010, hlm 1
[4] Op.Cit hlm 48
[5] Dr. H. Ramly Abdul Wahid, MA, Studi Ilmu Hadist, Cita Pustaka Medi, Bandung 2005, hlm 52
[6] Muhammad Dede Rudliyana, MA. Perkembangan pemikiran Ulumul Hadist dari klasik sampai modern, Pustaka Setia, 2004  Bandung hlm 109

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar